Kamis, 05 Mei 2011

perubahan bahasa


PERUBAHAN BAHASA

Kalau kita sedikit berpikir pada zaman sekarang tentang bahasa kita akan menemukan anyak kata yang asing pada telinga kita bahasa merupakan sebuah sistem universal yang dinamis. Ada pola-pola atau unsur-unsur linguistik dalam setiap bahasa. Pola-pola tersebut merupakan sistem bahasa. Aturan (sistem) berbahasa ini kemudian digunakan oleh masyarakat bahasa. Atas penggunaan bahasa dimaksud, dapat dikemukakan bahwa pada suatu komunitas bahasa tercipta konvensi bahasa yakni pada sistem bahasa. Konvensi itu penting karena bahasa digunakan tidak terbatas pada satu individu saja namun pada lingkup yang lebih besar yakni masyarakat bahasa regional bahkan internasional. Terkait dengan pengguna bahasa manusia yang selalu dinamis yang dalam kegiatannya melakukan kontak bahasa antara satu sama lain, maka terjadi pula bahasa yang dinamis. Pergerakan masyarakat bahasa ini bisa melewati batas-batas regional dalam upaya penutur suatu bahasa untuk melangsungkan kehidupannya.
Bahasa merupakan wadah yang memiliki konsep bahasa untuk melakukan kontak antara suatu komunitas bahasa dengan komunitas bahasa lainnya pada satu wilayah bertetangga bahkan dalam lintas wilayah. Ada konsep bahasa yang sama pada satu komunitas karena mereka menggunakan bahasa yang sama. Namun ketika masyarakat bahasa tersebut melakukan kontak dengan komunitas bahasa di luar komunitas aslinya maka tidak menutup kemungkinan akan tercipta suatu variasi bahasa.
Berbicara tentang variasi bahasa, seseorang perlu memahami istilah terkait yakni idiolek, dialek, dan ragam. Kridalaksana (2008: 90) menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan oleh seorang pribadi manusia dengan keseluruhan ciri-ciri bahasanya disebut idiolek. Jadi idiolek itu pusatnya pada tiap insan pengguna bahasa. Letak perbedaan lainnya adalah pada kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa pada suatu tempat atau waktu maka variasi bahasa yang terjadi disebut dialek. Misalnya bahasa Batak dialek Toba, bahasa Batak dialek Humbang Hasundutan, bahasa Batak dialek Simalungun. Lain halnya dengan ragam bahasa adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi, keadaan atau untuk keperluan tertentu sehingga kita mengenal istilah ragam baku dan tidak baku; juga ragam lisan dan tulisan.
Holmes (2001) dalam bukunya “An Introduction to Sociolinguistics” membahas perubahan bahasa atas empat fokus perhatian, yakni
1) variasi dan perubahan;
 2) bagaimana perubahan itu menyebar;
3) bagaimana kemudian kita mempelajari perubahan bahasa yang terjadi;
 4) alasan-alasan sehingga perubahan bahasa terjadi.
Perubahan bahasa terjadi tidak dalam jangka waktu yang singkat, hal ini di jelaskan para pakar ahli bahasa (Holmes, 2001: 194; Yule, 2006: 190; Aitchison, 2003: 160; Aitchison, 1991: 4; Chambers, 2006: 69, 109). Aitchison menambahkan bahwa perubahan itu sering kali tidak disadari (unconscious) oleh penutur satu bahasa karena bunyi dan bentuk sintaksis yang sifatnya statis. Perubahan bahasa itu menurut Greenberg (1978) dalam Good (2008) memiliki mekanisme mendasar yang umumnya terjadi pada semua bahasa; saya pahami sebagai mekanisme yang dapat ditelusuri lewat pendekatan horisontal atau longitudinal. Yule (2006) menyebutkan bahwa variasi bahasa dapat ditelusuri secara diakronis (waktu yang berbeda) dan sinkronis (melihat perbedaan dalam satu bahasa pada tempat serta kelompok yang berbeda pada waktu yang sama).
Terkait upaya untuk menguraikan perubahan bahasa dengan Teori Gelombang, maka saya akan lebih menaruh perhatian pada penelusuran perubahan bahasa secara sinkronis atau horisontal. Ibarat gelombang yang bergerak secara horisontal, maka demikian pula yang terjadi pada perubahan bahasa. Untuk lebih jelasnya saya akan menggambarkan tentang Teori Gelombang dari Schmidt
Kontak bahasa terjadi di antara komunitas bahasa yang berasal dari masyarakat bahasa yang berbeda-beda. Ketika kontak bahasa terjadi, seringkali pada awalnya penutur bahasa yang berbeda itu mengalami kegalauan bahasa oleh karena sistem, kosa kata, bunyi bahasa yang sedikit berbeda atau jelas-jelas berbeda. Namun disadari bahkan pergerakan tubuh atau mimik juga merupakan wujud lain bahasa (dalam tulisan ini saya tidak akan membahasnya). Kontak yang terjadi memberi ruang bagi masing-masing komunitas bahasa untuk saling menunjukkan identitasnya
Holmes mengemukakan bahwa bahasa sebagai identitas independen dari penutur. Selain itu ada tiga cara yang saling terkait dalam hal perubahan bahasa, yakni: perihal waktu , physical space –regional (wilayah), dan socially (secara sosial).
Ada semacam gelombang yang berasal dari individu sebagai anggota masyarakat bahasa dalam menjalani kehidupan ini sehingga mau tidak mau melakukan kontak dengan komunitas lain. Begitu juga dari masyarakat bahasa yang lain ada upaya yang kurang lebih sama. Masing-masing dari komunitas yang berbeda ini kemudian melakukan kontak. Saat kontak itu terjadi, maka ada pertukaran bahasa yang terjadi. Agar dapat saling memahami antar komunitas dimaksud, maka perlu upaya untuk mengerti bahasa dari komunitas yang berbeda. Upaya ini sebagai gelombang yang bersumber dari internal komunitas bahasa. Upaya internal ini terjadi bersamaan dengan pergerakan dari luar (eksternal). Jika kontak ini terjadi, berarti masyarakat bahasa tersebut merupakan masyarakat yang terbuka.
Dalam masyarakat yang terbuka, artinya yang para anggotanya dapat menerima kedatangan anggota dari masyarakat lain, baik dari satu atau lebih dari satu masyarakat, akan terjadilah apa yang disebut kontak bahasa. Intensitas kontak bahasa ini berpotensi pada terjadinya atau terdapatnya apa yang disebut dengan bilingualisme dan multingualisme. Bilingualisme merupakan penutur bahasa yang memiliki kemampuan berbahasa lebih dari satu bahasa. Multilingualisme merupakan penutur bahasa yang memiliki kemampuan berbahasa lebih dari dua bahasa. Kenyataan ini bisa didorong oleh adanya faktor perpindahan penduduk atau penutur bahasa dari daerah asal ke daerah lain sehingga dapat menciptakan munculnya daerah-daerah bahasa yang baru. Perpindahan penutur ini dapat mempengaruhi daerah yang didatanginya sehingga terjadi perbedaan bahasa yang mengarah pada perubahan bahasa. Aitchinson  menegaskan bahwa perubahan itu terjadi dalam jangka waktu yang lama dan terkait dengan perubahan sosial. Dimana perubahan sosial ini bisa disebabkan oleh perang, invasi, dan proses transmisi budaya.
Guiraud (1978) dalam Mahsun  menjelaskan bahwa pada dua bahasa atau dialek yang bertetangga akan terjadi proses peminjaman unsur-unsur kosakata, struktur dan cara pelafalan. Berarti dapat dipahami ada konsep pemahaman timbal balik dari komunitas yang berbeda tersebut. Konsep pemahaman timbal balik ini dapat disejajarkan dengan Teori Gelombang dari Schmidt (1843-1901). Wardhaugh  memberikan contoh faktual di Perancis; dari Granoble sampai Bordeaux, kata-kata seperti chandelle ‘lilin’, chanter ‘bernyanyi’, dan chaud ‘panas’ diucapkan dengan suara nerbeda di wilayah utara dan berbeda juga di wilayah selatan. Hal ini disebabkan oleh faktor geografis, politik, dan adanya kerajaan kuno. Terkait dengan gambar di atas, bagian yang diarsir mengalami proses peminjaman unsur-unsur kosakata, struktur dan cara pelafalan dari komunitas bahasa lain.
Setiap orang memiliki kecenderungan untuk dianggap lebih memiliki prestise dari orang lain terutama dalam kelompoknya sendiri. Orang dengan status sosial lebih tinggi berpotensi untuk memperkenalkan perubahan yang didapatnya dari komunitas lain yang menurut anggapannya memiliki status dan prestisi lebih bagus. Yule memberikan contoh pada Middle English setelah Old English, sebagai gambaran stratifikasi sosial High – Low. Misalnya kosa kata ‘sheep’, ‘cows’, ‘swine’ digunakan oleh masyarakat kelas sosial lebih rendah (berprofesi sebagai petani) untuk merujuk pada ‘mutton’, ‘beef’, ‘pork’ diujarkan oleh masyarakat kelas sosial lebih tinggi (lihat juga Aitchison. Di sisi lain Holmes  mengemukakan bahwa penutur dari masyarakat kelas sosial lebih rendah berpengaruh dalam menyebarkan perubahan linguistik yang kurang disadari yang tujuannya untuk menunjukkan solidaritas. Selain itu gender juga cukup berperan dalam perubahan linguistik terlebih lagi jika wanita tersebut memiliki posisi penting atau status sosial yang lebih tinggi
DAFTAR PUSTAKA
Kamus Linguistik. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Yule, George. 2006. The Study of Language. Cambridge University Press.
Mahsun, 1995. Dialektologi Diakronis: Pengantar. Yogyakarta : UGM Press

1 komentar:

Indah Young mengatakan...

makasih atas infonya.. bermanfaat banget buat sy ^^

Poskan Komentar